MEDAN (MakmurNews.com), Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution memberikan perhatian khusus terhadap kinerja PT Bank Sumut dan badan usaha milik daerah (BUMD) lainnya. Bank Sumut ditargetkan naik kelas pada akhir 2027, sementara BUMD yang tidak mampu meningkatkan kinerja dan pelayanan terancam digabung dalam satu holding.
Hal itu disampaikan Bobby saat melepas sekitar 4.000 peserta Fun Walk BUMD Sumut: “Satu Langkah, Satu Kolaborasi” di halaman Kantor PT Bank Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Sabtu (22/8/2026).
Bobby menegaskan, BUMD tidak boleh hanya menjalankan fungsi pelayanan seperti unit pelaksana teknis (UPT), tetapi juga harus memiliki orientasi korporasi agar mampu berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi daerah.
“BUMD itu lebih dari UPT. Kalau UPT, pengembangannya sesuai tugas. Kalau BUMD, selain menjalankan tugas pelayanan, juga harus mengarah kepada korporasi,” kata Bobby.
Ia meminta seluruh BUMD Sumut memperbaiki kinerja, mulai dari kesehatan perusahaan, kualitas pelayanan hingga kontribusi terhadap pemerintah daerah.
Khusus Bank Sumut, Bobby menargetkan perusahaan daerah tersebut mampu naik kelas pada akhir 2027. Selain peningkatan kinerja bisnis, ia meminta kualitas pelayanan dan pengembangan karier internal terus diperkuat.
“Kami akan support PT Bank Sumut. Jenjang karier, target, dan kinerja harus terus ditingkatkan. Target kita, pada akhir 2027 Bank Sumut bisa naik kelas,” ujarnya.
Di sisi lain, Bobby memberikan tenggat kepada seluruh BUMD untuk melakukan pembenahan hingga 2027. BUMD yang tidak mampu berkembang dan memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat akan dievaluasi, termasuk kemungkinan digabungkan dalam satu holding.
“Kalau sampai 2027 pelayanan kepada masyarakat tidak bisa dioptimalkan, tentu harus ada peningkatan. Kalau tidak bisa, kita akan satukan, kita gabungkan dalam holding,” tegasnya.
Bobby menilai kondisi sejumlah BUMD saat ini masih belum ideal. Ada perusahaan daerah yang memiliki aset besar tetapi tidak didukung kemampuan finansial memadai. Sebaliknya, terdapat BUMD yang memiliki kemampuan keuangan tetapi tidak memiliki aset yang besar.
“Contohnya Dirga Surya, pegawainya hanya sekitar lima orang. AIJ juga demikian. Ada BUMD yang asetnya besar tetapi tidak memiliki uang. Sebaliknya, ada yang uangnya banyak tetapi asetnya tidak ada,” katanya.
Menurut Bobby, ketimpangan tersebut seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat kolaborasi antarbadan usaha milik daerah. Aset, sumber daya manusia dan kemampuan finansial dapat disinergikan agar memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
“Kalau bisa disatukan untuk kepentingan masyarakat, tentu akan lebih baik. Kolaborasi ini kita harapkan membawa perbaikan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Sumatera Utara,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PD Aneka Industri dan Jasa (AIJ) Sumut, Swangro Lumban Batu, yang mewakili enam direktur BUMD Sumut, mengatakan Fun Walk merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut Swangro, kegiatan tersebut bermula dari komunikasi informal antarpimpinan BUMD dan kemudian berkembang menjadi kegiatan bersama yang diikuti sekitar 4.000 peserta.
“Ini lahir dari kopi santai. Dari situ lahirlah Fun Walk dengan kurang lebih 4.000 peserta gabungan enam BUMD di Sumut. Ini bukan seremonial, tetapi kekeluargaan kami sebagai BUMD,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi antarbadan usaha milik daerah, tidak hanya melalui kegiatan olahraga tetapi juga berbagai program bersama.
“Kami berharap kolaborasi ini dapat menjadi garda terdepan dalam membantu kemajuan Sumatera Utara,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut juga dibacakan Deklarasi Komitmen Kolaborasi BUMD Sumut yang memuat komitmen membangun kolaborasi sumber daya serta meningkatkan kontribusi BUMD bagi masyarakat dan pembangunan Sumatera Utara.
Kegiatan itu turut dihadiri jajaran dewan komisaris dan dewan pengawas BUMD, Pj Sekretaris Daerah Timur Tumanggor, sejumlah pimpinan OPD Pemprov Sumut, serta jajaran direksi dan karyawan BUMD Sumut.






