MakmurNews.com. -Di sebuah negeri yang katanya kaya dan makmur, seorang gadis kecil memanggil ayahnya dengan suara yang pecah oleh tangis.
“Ayah, bangun, Ayah… aku janji, aku tidak akan meminta uang sekolah lagi.”
Namun, ayahnya tak lagi menjawab.
Tubuh yang selama ini memikul lelah, menahan lapar, dan terus berjuang demi masa depan anak-anaknya itu kini terbaring diam. Seolah seluruh doa yang pernah ia simpan habis terkuras oleh kerasnya hidup.
Gadis kecil itu tak mengerti mengapa ayahnya begitu lama terpejam. Ia hanya tahu satu hal: ayahnya adalah pahlawan. Bukan pahlawan di panggung besar, bukan pula yang dipuja-puji banyak orang, melainkan pahlawan dalam kesunyian, dalam keringat, dalam langkah-langkah yang tak pernah menyerah demi membiayai sekolah anaknya.
Ia telah berjuang di tanah kelahirannya sendiri, di negeri yang gemar menyebut diri kaya raya dan adil makmur. Namun bagi keluarga kecil itu, kekayaan negeri tak pernah benar-benar sampai ke meja makan mereka. Yang hadir justru kerasnya zaman, mahalnya kehidupan, dan beban yang tak henti menekan pundak seorang ayah.
Kini, sang ayah telah pergi untuk selamanya.
Dan di dada gadis kecil itu, tertinggal ruang kosong yang tak akan pernah terganti. Air matanya jatuh bukan hanya untuk kehilangan, melainkan juga untuk mimpi-mimpi kecil yang tak sempat ia sampaikan.
“Selamat jalan, Ayah,” bisiknya lirih.
“Terima kasih sudah menjadi pahlawan untukku. Aku akan ingat selamanya, aku tidak akan lagi meminta uang sekolah. Aku akan berusaha seperti yang Ayah ajarkan.”
Selamat jalan, pahlawan kecil dalam kehidupan seorang anak.
Selamat jalan, ayah.
Dan selamat tinggal, negeri yang kaya raya, tetapi masih sering membiarkan kasih sayang kalah oleh kerasnya nasib.
■Idris Johansyak C






