“Beberapa kali pesan dikirim hanya centang satu, kalau pun masuk jarang dibalas. Padahal WA kini jadi alat komunikasi utama yang krusial, apalagi saat ada keadaan darurat di rumah sakit,” ujar salah seorang pemerhati rumah sakit yang enggan disebutkan identitasnya kepada -Makmur News, Kamis (5/3/2026).
Keluhan serupa disampaikan Abraham S., yang menyoroti potensi sumbatan komunikasi. “Informasi perlu didapatkan media, baik soal pelayanan maupun masalah di lapangan. Bagaimana pejabat mau dapat informasi dari publik jika tidak memantau WA?” tanyanya.
Pengamat RSUD lain yang juga enggan disebut namanya menegaskan, di era transformasi digital, pejabat publik wajib responsif. “WA harus aktif. Pejabat yang cuek terhadap alat komunikasi modern sangat fatal—itu bentuk ketidaksiapan memimpin dan merespons informasi. WhatsApp adalah sarana 'jemput bola' paling efektif,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Pimpinan RSU Kabanjahe Kab.Karo belum merespons pesan WA dari redaksi. Publik berharap ada perbaikan komunikasi dari pimpinan dinas guna tingkatkan pelayanan publik yang lebih baik. (Bt/Pr/Korwil)






