Dunia seolah dibuat tidak percaya setelah Israel dibantu Amerika Serikat (AS) dengan cepat dan tanpa aba-aba langsung menyerang Teheran, ibu kota Iran, yang langsung menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut, yakni Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah elite penting lainnya.
Sontak, kabar tersebut mengguncang masyarakat dunia karena kejadiannya yang berlangsung tiba-tiba dan tanpa didahului pemanasan seperti perang-perang pada umumnya.
Serangan yang berlangsung sejak Sabtu, 28 Februari 2026 itu pun langsung menggemparkan masyarakat global.
Kecemasan beraduk sedikit ketidakpercayaan memenuhi alam pikiran dan batin sebagian besar orang. Bahkan, hingga kini, masih banyak yang belum percaya jika Imam Khomeini telah meninggal dalam serangan tersebut, meskipun media resmi pemerintah Iran telah mengumumkan itu secara terbuka.
Adapun, eskalasi perang yang cepat dan ancaman disertai meluasnya perang ke kawasan Timur Tengah diprediksi bakal membuat banyak negara memilih bersikap hati-hati, serta cenderung diam.
Namun, apa yang menarik justru di luar dugaan. Di tengah ketegangan itu, Presiden Prabowo Subianto justru mengambil sikap berbeda. Ia menunjukkan sikap empati dan spontan yang mengejutkan.
Dengan cepat ia menyatakan kesiapan untuk bergegas ke Teheran guna membuka ruang mediasi.
Sepintas, langkah ini menimbulkan pro-kontra di masyarakat, tidak hanya masyarakat dalam negeri, melainkan juga di luar negeri.
Sebagian ada yang mencemooh, karena menganggapnya terlalu berani atau bahkan mustahil melerai pertikaian yang melibatkan negara-negara dengan kemampuan militer dan teknologi perang canggih seperti Iran, Israel, dan AS.
Tetapi bagi Prabowo, perdamaian adalah barang mahal dan bukan milik ekslusif sebagian orang. Ia bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan panggilan moral.
Baginya, Indonesia sebagai negara besar dengan tradisi politik bebas aktif, memiliki tugas besar dan rasa tanggung jawab untuk ikut dalam menjaga stabilitas global.
Dengan begitu, nawaitunya untuk bertolak ke pusat konflik merefleksikan keberanian sekaligus keyakinan bahwa dialog selalu lebih memberikan jalan menuju perdamaian yang bermartabat ketimbang melalui dentuman senjata.
*Sang Kesatria*
Meski dicemooh banyak pihak, sikap spontan Presiden Prabowo untuk memediasi perang AS-Israel melawan Iran harus dilihat dalam kacamata yang lebih konstruktif.
Niat tersebut mencerminkan jiwa kesatria seorang negarawan sejati yang tidak memilih diam disaat dunia sedang membara.
Bahkan di saat semua pemimpin dunia diam karena tidak ingin mengambil konsekuensi, justru Prabowo memilih kalkulasi politik yang penuh wibawa.
Di saat semua pemimpin negara memilih main aman, Prabowo justru mengambil posisi moral yang tegas dan melawan setiap tindakan yang merusak perdamaian dunia.
Dalam pandangan Prabowo tidak boleh ada konflik berdarah yang dibiarkan tanpa upaya damai. Karenanya, keputusan menawarkan diri sebagai mediator bukanlah langkah emosional tanpa perhitungan, melainkan cerminan dari komitmen panjang terhadap prinsip perdamaian dunia yang selama ini telah beliau perjuangkan.
Sebagai kepala negara, Prabowo sadar betul bahwa konstitusi Indonesia secara eksplisit mengamanahkan keterlibatan aktif dalam menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Amanat Pembukaan UUD 1945 itu harus dimaknai dalam konteks yang lebih konstruktif dan kekinian, bukan sekadar kalimat historis, tetapi mandat yang hidup.
Dalam konteks itulah, inisiatif menuju Teheran menjadi relevan untuk dihubungkan, bukan sekadar respons politik yang sarat ambisi semata.
Karakter kesatria seorang Prabowo tercermin dalam keberanian mengambil risiko demi kepentingan yang lebih besar.
Sekali lagi, Prabowo memunjukkan kepada dunia bahwa bahwa misi mediasi di tengah konflik geopolitik kompleks harus menjadi tanggung jawab bersama, meskipun sarat tantangan.
Jiwa kesatria sejati memang tidak diukur dari peluang keberhasilan semata, sehingga membuat seseorang selalu terhenti dalam menimbang-nimbang sebuah konsekuensi sebelum langkah nyata diambil.
Sebaliknya, ia mencerminkan keteguhan membela nilai yang diyakini benar. Dalam sejarah hubungan internasional, banyak contoh yang bisa dijadikan rujukan di mana perdamaian selalu lahir dari keberanian satu pihak untuk memulai dialog ketika suasana masih panas.
*Apresiasi Keberanian Prabowo*
Sulit dinafikan bahwa niat tulus Prabowo memediasi negara terlibat perang tersebut mengundang skeptisisme publik.
Ada yang masih meragukan kapasitas Indonesia dalam memediasi perang sebesar AS-Israel dan Iran yang jika dilihat secara realistis, memang sedikit meragukan kemampuan Indonesia.
Sebagian bahkan menilai langkah tersebut terlalu ambisius sehingga mengabaikan kondisi objektif dan realitas yang ada. Namun dalam diplomasi global, satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa keberanian sering kali menjadi pembeda antara stagnasi dan terobosan.
Prabowo ingin menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu harus menunggu undangan resmi atau menunggu sebuah negara memiliki kesiapan baik fisik maupun alat diplomatik tertentu.
Dalam banyak hal, terkadang inisiatif personal seorang pemimpin justru menjadi pembuka ruang bagi komunikasi yang sebelumnya terhambat atau tertekan.
Dengan begitu, keberanian untuk menawarkan diri sebagai mediator bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata, melainkan hal itu mencerminkan keyakinan bahwa setiap konflik, seberat dan serumit apa pun itu, tetap memiliki celah dialog jika ada pihak yang berani bersedia menjadi penjembatan.
Prabowo senantiasa berpandangan bahwa bahwa konflik bersenjata modern tidak lagi selalu bersifat lokal yang dampaknya terbatas.
Sebaliknya, dalam keyakinan Prabowo perang modern selalu membawa efek domino yang kompleks dan bersifat global.
Ia bisa membawa dampak buruk ke sektor ekonomi global, stabilitas energi, hingga keamanan regional Asia.
Untuk itu, Indonesia sebagai negara dengan posisi strategis dan populasi muslim terbesar, harus ikut andil tidak bisa hanya bersikap pasif terhadap potensi instabilitas yang berdampak luas.
Dalam kaca mata itulah, langkah berani Prabowo untuk siap menghadapi segala konsekuensi perang yang ditimbulkan patut diacungi jempol.
*Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*






