Rabu, 10 Desember 2025

Tukang Sumur Bor Tuding Salah Tangkap diduga Brutal Polsek Medan Tembung

MakmurNews.com, Medan | Sumartono (48), warga Tembung yang sehari-hari menggantungkan hidup sebagai tukang sumur bor, mengungkap dugaan praktik salah tangkap diduga brutal yang menimpanya oleh oknum anggota Polsek Medan Tembung. Peristiwa tersebut ia sampaikan kepada wartawan pada Rabu, 4 Desember 2025, yang disebutnya sebagai cermin kelam penegakan hukum yang diduga mengabaikan prosedur serta nilai kemanusiaan.

Saat kejadian, Sumartono mengaku hanya sedang duduk menunggu upah pekerjaan tanpa melakukan aktivitas mencurigakan. Namun tiba-tiba, beberapa anggota polisi datang menghampiri tanpa memperkenalkan diri maupun menjelaskan maksud penindakan. Dalam hitungan detik, lehernya dipiting keras, tubuhnya didorong paksa, lalu ia dilempar ke dalam mobil patroli dan dibawa ke Polsek Medan Tembung tanpa diberi penjelasan apa pun.

“Saya bukan buronan, bukan pelaku apa pun. Saya cuma duduk nunggu bayaran. Tapi tiba-tiba leher saya dipiting, diangkut kayak karung. Tidak ada surat, tidak ada penjelasan, tidak ada tanya jawab,” ungkap Sumartono dengan suara gemetar menahan emosi.

Setiba di kantor polisi, perlakuan yang dialaminya justru semakin memperparah penderitaan. Tanpa proses klarifikasi, pemeriksaan awal, ataupun pemberitahuan tuduhan, Sumartono mengaku langsung dimasukkan ke dalam sel tahanan. Ia tidak mengetahui alasan resmi penangkapan yang dilakukan terhadap dirinya.

“Saya rakyat kecil, tidak paham hukum. Tiba-tiba sudah di balik jeruji. Saya tidak pernah diberi tahu kesalahan saya apa. Rasanya seperti diperlakukan bukan sebagai manusia,” katanya lirih.

Akibat kejadian itu, Sumartono mengaku mengalami nyeri hebat di leher selama lebih kurang tiga hari, disertai tekanan mental yang memukul kondisi psikologis istri serta anak-anaknya yang trauma menyaksikan kepala keluarga digiring paksa seperti penjahat. Di lingkungan tempat tinggalnya, stigma pun langsung melekat dan mencoreng nama baiknya.

“Nama saya rusak. Tetangga lihat saya digiring polisi, langsung cap saya penjahat. Padahal saya cuma orang kerja cari makan buat anak istri,” tuturnya.

Sumartono menegaskan, peristiwa tersebut bukan hanya menyangkut dirinya, tetapi menjadi gambaran perlakuan tidak adil terhadap rakyat kecil yang kerap menjadi korban tindakan arogan oknum aparat. Ia meminta negara hadir dan tidak menutup mata terhadap penegakan hukum yang diduga menyimpang.

“Saya mohon kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Kapolri, Kapolda Sumut, Divisi Propam Polri, dan Kapolrestabes Medan untuk turun tangan. Jangan biarkan aparat sewenang-wenang terhadap rakyat kecil. Kalau orang susah bisa dipiting tanpa salah, siapa lagi yang besok jadi korban?” tegasnya.

Ia berharap kasus dugaan salah tangkap ini diusut tuntas secara transparan dan para oknum yang terlibat diberi sanksi tegas bila terbukti melanggar hukum.

“Polisi harus mengayomi, bukan menakuti. Menegakkan hukum, bukan membantai prosedur. Saya hanya ingin keadilan supaya tidak ada lagi korban setelah saya,” pungkas Sumartono.

Kasus ini kini menuai perhatian publik luas dan menjadi ujian serius bagi komitmen institusi kepolisian untuk membuktikan bahwa penegakan hukum di Indonesia benar-benar berpihak pada keadilan, tanpa pandang bulu, serta tidak lagi tajam ke bawah dan tumpul ke atas.


(Tim)

Share:

Arsip Blog