Selain berkarier di dunia musik, Nuh juga menjalani profesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Meski memiliki tanggung jawab sebagai pegawai negeri, ia tetap konsisten menulis dan memproduksi lagu. Karena menurutnya musik adalah cara untuknya berbicara jujur dengan diri sendiri.
“Kalau bisa dibilang musik itu bagi saya tak hanya sekadar sarana ekspresif ya, tapi juga wadah curhat, ruang kreativitas untuk menyalurkan ide, tulisan, dan perasaan yang sering terlintas di kepala,” jelasnya.
Dalam industri yang kini didominasi oleh tren musik pop dan elektronik, Nuh justru memilih jalur berbeda. Ia menghadirkan nuansa musik yang mengingatkan pendengar pada gaya era 1980–1990-an, dengan melodi sederhana dan lirik yang kuat secara emosional.
Identitas musikal Nuh tidak dibangun secara instan. Sejak 2013, ia sudah menulis lirik dan puisi di blog pribadi sebelum akhirnya serius merilis karya sendiri. Menurut Fikar, salah satu tim produksi Nuh, warna musik melow yang menjadi ciri khasnya bukan hasil strategi pasar, melainkan bagian alami dari karakternya yang lembut dan reflektif.
“Kalau warna musik melow itu karena memang bawaan pribadi dan kesehariannya. Nuh memang seperti itu orangnya, dia suka menulis yang seperti itu, dan semua lirik itu pengalaman pribadinya,” ungkap Fikar.
Ciri khas itu semakin kuat ketika lagu “Teruntuk Mia” viral dan kini mencapai lebih dari 49 juta kali pemutaran di Spotify. Lagu tersebut menjadi titik balik dalam kariernya, sekaligus menegaskan ciri khas musik melankolis yang ia bawa.
Dalam proses kreatifnya, inspirasi bisa datang dari mana saja. Kadang muncul saat menyetir, bersenandung, lalu merekam potongan nada di voice note untuk dikembangkan bersama produsernya, yaitu Bio.
"Biasanya ide datang begitu saja, lalu saya bawa ke Bio untuk kita eksplor bareng. Jadi setara bagiannya, mulai dari senandung, dapat lirik, brainstorming, sampai rekaman,” tutur Nuh.
Secara musikal, Nuh banyak terinspirasi oleh musisi lawas seperti Benjamin S., P. Ramlee, dan Deddy Dores, serta nama-nama modern seperti Sal Priadi dan Bilal Indrajaya. Perpaduan dua generasi ini membentuk gaya khas Nuh yang nostalgik, namun tetap relevan bagi pendengar masa kini.
Selain “Teruntuk Mia,” Nuh juga telah merilis beberapa karya lain, seperti album “Mentari di Mata Hujan” dan single terbaru “Simpan Dulu Rindu.” Setiap lagu baginya bukan sekadar karya, melainkan bentuk refleksi diri dan keinginan untuk berbagi kisah dengan pendengar.
“Harapan saya, orang menikmati lagu-lagu saya bukan karena sedihnya, tapi karena mereka bisa menemukan bagian dari diri mereka di dalamnya,” tutupnya. (Ril/Red/Fjr)






